oleh

Vaksin Booster Cuma Diberi Setengah Dosis, Ini Alasan Pemerintah

-Nasional-56 views

Jakarta-Indoglobe News

banner 970x90

Pemerintah memutuskan memberikan setengah dosis vaksin booster kepada masyarakat. Vaksinasi booster diprioritaskan kepada masyarakat lanjut usia dan kelompok rentan.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkap, alasan pemerintah hanya memberikan setengah dosis vaksin booster kepada masyarakat. Menurutnya, pemberian setengah dosis ini sudah melalui tahap penelitian.

“Hasil penelitian dalam dan luar negeri menunjukkan vaksin booster setengah dosis meningkatan antibodi yang relatif sama atau lebih baik dari vaksin booster dosis penuh” Katanya dalam konferensi pers, Selasa (11/1).

Masih berdasarkan penelitian, penyuntikkan setengah dosis vaksin booster memberikan dampak Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang lebih ringan.

Mantan Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini menyebut, pemberian vaksinasi booster di Indonesia sementara menggunakan tiga alternatif. Alternatif pertama, masyarakat yang sudah mendapatkan vaksinasi primer atau dosis pertama dan kedua Sinovac, akan mendapatkan booster Pfizer dengan dosis setengah.

“Kedua, untuk vaksin primer Sinovac, akan kita berikan setengah dosis AstraZeneca” Sambungnya.

Alternatif ketiga, masyarakat yang telah mendapatkan vaksinasi dosis pertama dan kedua AstraZeneca, akan mendapatkan booster Moderna dengan setengah dosis.

Budi menjelaskan, pemberian vaksin booster yang berbeda dengan vaksin primer ini mengikuti ketersediaan vaksin. Kombinasi vaksin booster ini juga sudah mendapat persetujuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional atau Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI).

Baca Juga  Demokrat Somasi Moeldoko Cs Agar Tidak Lagi Ngaku-ngaku Dan Pakai Atribut Partainya

“Ini juga sudah sesuai dengan rekomendasi WHO, di mana pemberian vaksin booster dapat menggunakan vaksin sejenis atau homolog atau juga vaksin berbeda atau heterolog” Jelasnya.

Menurut Budi, berdasarkan penelitian di luar negeri, vaksin booster heterolog menunjukkan peningkatan antibodi yang relatif sama atau lebih baik dari vaksin booster homolog.

Pemerintah memulai vaksinasi booster Covid-19 secara gratis pada Rabu (12/1). Vaksinasi diberikan kepada masyarakat yang sudah mendapatkan vaksin dosis lengkap minimal enam bulan terakhir.

Data Kementerian Kesehatan, sudah ada 21 juta sasaran yang memenuhi syarat vaksinasi booster pada Januari ini. Pemerintah membutuhkan 230 juta dosis vaksin untuk booster. Saat ini pemerintah telah mengamankan sekitar 113 juta dosis.

BPOM telah memberikan izin penggunaan darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) kepada lima vaksin sebagai booster Covid-19. Lima vaksin tersebut ialah, Pfizer, AstraZeneca, Coronavac/Vaksin PT Bio Farma, Zifivax, dan Moderna

Kepala BPOM, Penny Kusumastuti Lukito mengatakan pemberian EUA pada lima vaksin sebagai booster sudah melalui tahap evaluasi. Proses evaluasi melibatkan Komite Nasional Penilai Khusus Vaksin Covid-19, Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), serta asosiasi klinisi terkait.

Baca Juga  JPU Bela Bima Arya saat Tanggapi Nota Keberatan Rizieq: Tujuan Wali Kota Bogor Mulia

“Lima vaksin telah mendapatkan rekomendasi memenuhi persyaratan yang ada sehingga bisa dilanjutkan dengan proses pemberian EUA” Kata Penny dalam konferensi pers, Senin (10/1).

Dia menjelaskan, BPOM telah mengkaji keamanan, khasiat, dan mutu lima vaksin sebagai booster sejak November 2021. Lima vaksin tersebut juga sudah melalui tahapan uji klinik.
Berikut rincian lima vaksin yang mendapatkan EUA untuk booster Covid-19:

Coronavac/Vaksin PT Bio Farma

Penny mengatakan, Coronavac menjadi vaksin booster homolog atau vaksin tambahan yang sama dengan jenis dosis pertama dan kedua. Booster Coronavac diberikan satu dosis setelah enam bulan vaksinasi dosis kedua kepada masyarakat di atas 18 tahun.

Berdasarkan hasil uji klinik, booster Coronavac menimbulkan kejadian tidak diinginkan berupa reaksi lokal seperti nyeri di tempat suntikan, kemerahan, dengan tingkat keparahan grade 1, 2.

“Imunogenisitas menunjukkan peningkatan titer antibodi netralisasi 21 hingga 35 kali setelah 28 hari pemberian vaksin booster ini pada subjek dewasa” Jelas Penny.

Vaksin Pfizer

Sama seperti Coronavac, Pfizer menjadi booster homolog. Booster ini diberikan satu dosis pada masyarakat di atas 18 Tahun yang sudah menerima dosis kedua minimal enam bulan.

Baca Juga  Misteri King Maker Jaksa Pinangki Tak Terungkap, ICW mendesak agar KPK Turun Tangan

Data uji klinik menunjukkan, kejadian tidak diinginkan booster Pfizer bersifat lokal. Umumnya berupa nyeri di tempat suntikan, sakit kepala, nyeri otot, nyeri sendi, demam dengan grade 1 sampai 2.

Imunogenisitas booster Pfizer menunjukkan peningkatan nilai rata-rata titer antibodi netralisasi setelah satu bulan sebesar 3,3 kali.

Vaksin AstraZeneca

Vaksin AstraZeneca juga direkomendasikan menjadi booster homolog. Data uji klinik menunjukkan, kejadian tidak diinginkan pada booster AstraZeneca bisa ditoleransi dengan baik. Umumnya kejadian tidak diinginkan masuk kategori ringan dan sedang.

“Ringan lebih besar 55 persen, sedang 37 persen” Kata Penny.

Imunogenisitas booster AstraZeneca menunjukkan peningkatan nilai rata-rata titer antibodi netralisasi dari 1.792 menjadi 3.370. Meningkat tiga kali.

Vaksin Moderna

Menurut Penny, vaksin Moderna menjadi booster homolog dan heterolog. Booster Moderna hanya diberikan setengah dosis pada masyarakat di atas 18 tahun.

“Heterolognya Moderna untuk vaksin primernya AstraZeneca, Pfizer, dan Johnson” Jelasnya.

Imunogenisitas booster Moderna menunjukkan peningkatan nilai rata-rata titer antibodi netralisasi sebesar 13 kali setelah penyuntikan.

Vaksin Zifivax

Vaksin Zifivax menjadi booster heterolog dengan primer Sinovac atau Sinopharm. Imunogenisitas booster Zifivax menunjukkan peningkatan nilai rata-rata titer antibodi netralisasi lebih dari 30 kali setelah dosis lanjutan.

“Ini juga diberikan setelah enam bulan ke atas” Katanya.(dd)

banner 970x90

Komentar

News Feed