oleh

Perlukah European Super League Diadakan?

-Olahraga-10 views
banner 970x90

Indoglobe News-Sports

Beberapa hari terakhir ini, dunia sepak bola dihebohkan karena munculnya wacana untuk mengadakan kompetisi European Super League (ESL).

banner 970x90

Kompetisi ini merupakan hasil inisiatif dari tiga pemilik klub, yaitu John Glaswell (Manchester United), Stan Kroenke (Arsenal), dan John Henry (Liverpool).

Ada 20 klub yang akan menjadi peserta awal dari ESL. 15 klub tetap terdiri dari Chelsea, Manchester City, Manchester United, Tottenham Hotspur, Liverpool, Arsenal, Juventus, Inter Milan, AC Milan, FC Barcelona, dan Real Madrid. Plus ditambah dengan tiga klub yang saat ini sedang menunggu konfirmasi dan kepastian.

Sedangkan sisa lima klub tidak tetap lain akan diseleksi secara berkala sesuai dengan performa mereka masing-masing.

Secara format, kompetisi ini akan dilaksanakan dalam fase grup dan knock-out. Di mana ke-20 klub tadi akan dibagi rata ke dalam dua grup.

Masing-masing akan menjalankan pertandingan secara bergilir melawan sesama anggota dalam grup. Peringkat klasemen satu sampai tiga akan melaju ke babak perempat final, dan peringkat empat dan lima akan menjalani fase play-off untuk memperebutkan satu tempat di babak perempat final.

Untuk sistem knock-out akan dilaksanakan dalam format dua leg.

Menurut keterangan dari Florentino Perez, pemilik Real Madrid sekaligus pimpinan dari kompetisi ini. ESL rencananya akan dilaksanakan pada bulan Agustus dengan setiap laganya akan dijadwalkan pada tengah pekan.

Namun, inisiatif ESL ini menimbulkan beberapa pertentangan dari berbagai pihak. Baik dari pemain, pelatih, maupun kalangan fans klub itu sendiri. Ada yang berpendapat bahwa adanya kompetisi baru ini adalah sebuah bentuk kerakusan para pemilik klub demi mendapat uang yang lebih banyak, tapi di sisi lain ada juga yang mendukung inisiatif tersebut sebagai upaya untuk menghadirkan kompetisi yang lebih menarik serta upaya untuk menyelamatkan kondisi keuangan klub yang tidak stabil saat ini.

Baca Juga  Menpora Sebut Jokowi Minta Dikaji Liga 1 dan 2 Digelar dengan Penonton di Stadion

Kalau dilihat dari latar belakangnya, memang tidak bisa dipungkiri bahwa munculnya gagasan ini sedikit banyak dipengaruhi oleh latar belakang pandemi yang telah terjadi selama setahun ini. Menurut laporan yang dikeluarkan oleh Deloit Footbal Money League (2021), rata-rata klub peserta ESL mengalami kerugian sebesar 50-300 juta euro selama pandemi akibat menurunnya pendapatan dari tiket stadion dan merchandise klub.

Satu-satunya sumber pendapatan klub selain dari sponsor adalah dari hasil hadiah kompetisi dan jatah hak siar liga. Itupun setelah dihitung-hitung masih mengalami defisit karena besarnya lebih kecil dari pengeluaran beban gaji dan operasional klub sehari-hari.

Sebagai perbandingan, Barcelona yang merupakan klub dengan pendapatan terbesar di dunia pun pada musim ini mencatat kerugian sebesar 130 juta euro (Laporan KPMG Footbal Benchmark: 2021)

Hal-hal ini kemudian mendorong munculnya inisiatif untuk mengadakan kompetisi ini. Firma sekuritas dan investasi dari Amerika serikat, JP Morgan, dikabarkan akan menjadi sponsor utama dari kompetisi ini dengan gelontoran dana sebesar 3,5 miliar euro yang akan dibagi kepada para klub peserta ESL.

Jumlah angka yang dua kali lipat lebih besar daripada harga hak siar liga Inggris yang hanya 1,5 milliar euro. Dengan demikian rata-rata klub yang berpartisipasi di ESL akan mendapatkan sekurang-kurangnya 250-290 juta euro hanya dari partisipasi mereka sebagai peserta saja, belum termasuk dengan bonus juara dan sebagainya yang tentunya bisa lebih tinggi.

Jumlah yang tentunya sangat menggiurkan apabila kita bandingkan dengan jumlah hadiah juara Liga Champions Eropa yang hanya sebesar 80-150 juta euro saja.

Daya tarik klub-klub besar yang menjadi peserta ESL, tingginya hak siar, serta insentif dana yang besar dari kompetisi ini diharapkan menjadi solusi di tengah sulitnya kondisi keuangan yang dialami klub-klub Eropa saat ini.

Namun, UEFA (otoritas sepakbola tertinggi di benua Eropa) serta FIFA (otoritas sepakbola tertinggi di dunia) sepakat menolak wacana kompetisi ini. Gianni Infantino (Presiden FIFA) dan Aleksandar Cesarini (presiden UEFA) mengeluarkan larangan bagi para pemain klub yang berpartisipasi di ESL untuk bermain untuk timnas di piala dunia dan melarang partisipasi klub-klub tersebut dalam ajang resmi di liga lokal masing-masing maupun di tingkat Eropa.

Baca Juga  Tim Basket Ball Putri SMPN 1 Garut Raih Juara Pertama Tingakat Kabupaten

Di satu sisi bila kita mempertimbangkan dari segi keuntungan semata, kompetisi ESL ini memang menarik dan menjanjikan. Kita akan disuguhi pertandingan big match antara klub-klub besar setiap pekannya yang tentunya akan menjaring uang pemasukan yang lebih tinggi juga.

Namun, bila dilihat dari dampak jangka panjang. Model kompetisi seperti ini kemungkinan besar akan menimbulkan kesenjangan yang besar antara klub-klub tetap peserta ESL saja, dan tidak menyisakan bagian untuk klub-klub kecil dan menengah di luar ESL.

Terlebih bila kita melihat format anggota dalam kompetisi di mana tidak ada sistem promosi dan degradasi, serta 15 klub pengusul yang akan terus berada dalam kompetisi ini bisa dibilang cukup mengherankan.

Arsenal, Tottenham Hotspur, dan Juventus di musim ini terseok-seok dan tidak tampil di liganya masing-masing dan tidak pernah sama sekali menjuarai Liga Champions Eropa. Sedangkan klub-klub seperti Manchester City dan Paris Saint-Germain bisa dibilang relatif baru muncul sebagai kekuatan baru di eropa hanya karena sahamnya dibeli oleh pemilik klub yang kebetulan punya banyak uang untuk diinvestasikan saja. Klub-klub seperti Atalanta, Sevilla, ataupun Ajax yang secara performa baik tapi tidak memiliki insentif dana dan reputasi sebesar klub-klub di atas seperti dikesampingkan secara sepihak.

Ada semacam bias dan ketidakjelasan antara standar yang ditetapkan untuk menjadi peserta kompetisi, di satu sisi ada klub-klub yang harus diasesmen performanya tapi di satu sisi ada klub yang secara otomatis dapat berpartisipasi tanpa melihat rekam jejak performanya. Model kompetisi seperti ini justru akan menurunkan daya saing liga dan menimbulkan ketidakpastian, terkhusus bagi anggota ESL yang statusnya tidak tetap.
Kalau dilihat secara objektif, sistem Liga Champions dan Piala Dunia bisa dibilang jauh lebih egaliter dan memungkinkan untuk partisipan yang lebih beragam.

Baca Juga  Saat Bepe Kehilangan Medali Juara Piala Presiden

Dan dalam fase kualifikasi dari kedua kompetisi tersebut pun juga telah menguntungkan bagi negara atau klub dengan reputasi besar, dengan adanya jumlah jatah koefisien yang lebih besar bagi lima liga besar di eropa, serta negara-negara langganan kompetisi tersebut, termasuk untuk besaran pembagian jatah uang sponsor dan hak siar.

Bahkan untuk mengatasi persoalan-persoalan keuangan dan akses tersebut, ada usulan untuk menambah jatah peserta kompetisi demi memberikan kesempatan partisipasi bagi klub dan negara yang lebih banyak lagi. Yang tentunya akan menghasilkan pertandingan serta pemasukan yang lebih banyak lagi.

Bilamana dalam kasus terburuk, perseteruan antara klub dengan otoritas sepakbola ini terus berlanjut. Maka bisa dipastikan dampak negatifnya akan lebih banyak dirasakan oleh pemain serta klub-klub level kecil dan menengah. Siapa yang mau menonton dan membeli hak siar piala dunia dan Liga Champion apabila klub seperti Barcelona, PSG, dan lain-lain dengan pemain bintangnya tidak ada?

Secara otomatis hal ini akan menyebabkan menurunnya pendapatan, hak siar, serta daya jual dari masing-masing kompetisi lokal, karena seluruh perputaran uang serta daya tarik hanya terpusat di kompetisi ESL semata. Praktis hal ini akan semakin menambah kesenjangan kualitas antar klub-klub di Eropa.

Secara jangka pendek, barangkali ESL adalah solusi untuk mengatasi problem yang dihadapi oleh klub-klub besar Eropa saat ini. Tapi dalam jangka panjang hal ini dapat merugikan nasib dari klub-klub kecil di luar itu.

Menarik kita simak kelanjutan dari perseteruan kedua belah pihak ini. Apakah FIFA, UEFA, dan Klub-klub dapat menemukan jalan tengah dibalik kerumitan ini?(dd). Editor (Idat).

Komentar

News Feed