oleh

Kemendikbudristek: Tak Ada Seleksi Sekolah yang Mau Terapkan Kurikulum Prototipe

Jakarta-Indoglobe News

banner 970x90

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi memastikan tidak melakukan seleksi terhadap sekolah yang berminat menerapkan kurikulum prototipe. Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kemendikbudristek Anindito Aditomo mengatakan pihaknya akan melakukan pemetaan dan mengecek kesiapan dari sekolah tersebut.

“Sekali lagi, tidak ada seleksi dalam proses pendaftaran ini. Jika ada berita di media yang menyatakan Kemendikbudristek melakukan seleksi, itu keliru ya. Yang kami lakukan adalah melakukan pemetaan tingkat kesiapan dan menyiapkan bantuan yang sesuai kebutuhan,” terang Nino melalui akun Instagram pribadinya, dikutip pada Kamis (13/1/2022).

Baca Juga  Pemerintah Susun Kurikulum Ekonomi Syariah Sejak SD

Kemendikbudristek akan menyiapkan materi yang menjelaskan konsep Kurikulum Prototipe. Kepala sekolah yang ingin menerapkan akan diminta untuk mempelajari materi tersebut. Sekolah kemudian akan diminta mengisi formulir pendaftaran dan sebuah survei singkat.

“Jadi prosesnya adalah pendaftaran dan pendataan, bukan seleksi,” ujar Nino.

Nino meyakini keberhasilan penerapan kurikulum tergantung pada kesediaan kepala sekolah atau madrasah dan guru untuk memahami dan mengadaptasi kurikulum di konteks masing-masing. Dengan demikian, kurikulum prototipe dapat diterapkan di semua sekolah/madrasah. Bukan hanya di sekolah/madrasah yang punya fasilitas bagus atau yang berada di kota saja.

“Tapi bukankah tingkat kesiapan sekolah/madrasah berbeda-beda? Betul. Tidak bisa dipungkiri bahwa ada kesenjangan dalam mutu sekolah/madrasah kita. Karena itu kami menyiapkan skema tingkat penerapan kurikulum, berdasarkan hasil survei yang diisi sekolah ketika mendaftar,” ujar dia.

Baca Juga  Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas Menyesuaikan dengan PPKM Mikro

Dalam skema tersebut, Nino melanjutkan sekolah yang sudah terbiasa mengadaptasi materi dan kerangka kurikulum akan disarankan untuk mengadopsi Kurikulum Prototipe secara penuh. Menurutnya sekolah tersebut sebenarnya sudah menerapkan substansi dari pembelajaran yang ingin didorong melalui Kurikulum Prototipe. Sehingga, pihaknya hanya memberi penguatan dan rekognisi formal.

Sementara, sekolah yang belum terbiasa akan disarankan mencoba menerapkan secara parsial. Di tahun pertama, mereka masih menggunakan Kurikulum 2013, namun sambil mempelajari dan menerapkan beberapa komponen dari Kurikulum Prototipe.

“Misalnya, menggunakan buku teks baru untuk mapel tertentu, menggunakan asesmen diagnostik untuk literasi dan numerasi, atau pembelajaran berbasis proyek untuk tema-tema tertentu,” tandas Nino.(dd)

banner 970x90

Komentar

News Feed