oleh

Kadisdikbud Tatang Komara; “Banyak yang Tidak Suka dengan Cara Saya”

Subang, IGN Jabar – Sejauhmana upaya melawan arus saat memegang jabatan di
pemerintahan merupakan hal yang melelahkan. Menjadi pejabat jujur tidak semudah
membalikkan telapak tangan saat memegang kendali kebijakan dan kemudahan
mendapat fasilitas. Terlebih anggaran pendidikan khususnya di Jawa Barat yang
mendapat perhatian dan prioritas Gubernur Ridwan Kamil.

banner 970x90

“Banyak yang tidak suka dengan cara saya karena tidak sedikit orang-orang berharap
dari kesalahan dan memperoleh sesuatu dari kesalahan saya. Saat saya menjabat
kepala dinas hal tersebut tidak boleh terjadi,” tegas Kadisdikbud Kabupaten Subang. Tatang Komara kepada IGN Jabar di ruang kerjanya belum lama ini.
Menurutnya, jika itu terulang maka tidak akan ada perbaikan dan tidak ada bedanya
dengan kepala dinas terdahulu yang pada zamannya seperti itu. Tatang mengaku
dirinya memang tidak sempurna, namun berusaha agar tidak melakukan hal di luar
normal. Apa yang diupayakan ia siap sengsara karena optimis bekal sejak menjadi.

Baca Juga  Terkait Temuan BPK RI di Setda Jabar; “Sudah Tidak Ada Kerugian Negara, Kelebihan Bayar Dikembalikan Sesuai Prosedur”

camat dahulu sudah cukup. Dan itu halal.
“Di lapangan saya tegas dan tidak main-main. Saya menolak uang dari bawah. Dan bagaimana budaya dulu pake uang sekarang sudah tidak ada. Apalagi dari guru, darimana mereka punya uang?” ujar Tatang.
Misalnya, kalau setiap hari diminta duapuluh hingga duapuluhlima ribu bagi seorang guru itu hal yang berat. Mereka hanya mengandalkan gaji. Dia bisa mengatakan itu karena dulu dirinya pernah menjabat sebagai guru.
“Saya pernah mengatakan kepada bupati saat diminta menjabat kadisdikbud, kalau
menjadi kepala dinas hanya mengandalkan gaji saja, jika lebih saya lebih bisa disebut
korupsi. Beda dengan camat yang memiliki dua SK. Namun karena saya bertekad
mengubah keadaan, akhirnya menerima jabatan sebagai kepala dinas,” ungkap Tatang.

Baca Juga  Ridwan Kamil Ingatkan Pemindahan Jenazah di Pemakaman Covid-19 Bisa Dipidana

Namun belum satu tahun setengah, kursi jabatan yang diduduki serasa bara. Dirinya
mulai tidak tahan hingga menyampaikan permohonan pengunduran diri kepada bupati
sebanyak 3 kali.
“Kalau untuk urusan pekerjaan saya tidak masalah. Tapi di luar urusan yang lain saya
tidak tahan. Makanya mengajukan permintaan mengundurkan diri. Target saya pindah
ke provinsi, namun bukan sebagai pejabat melainkan staf fungsional dan berharap
kembali ke basic saya sebagai guru,” tutur Kadisdikbud Subang ini. (Zulkifli L/Dayan IGN Jabar)

banner 970x90

Komentar

News Feed