oleh

Dugaan Adanya Penyelewengan Dana Sharing Dan Tidak Ada Transparansi Oleh Ketua LMDH Margo Ayu Desa Pakuniran

PROBOLINGGO INDOGLOBENEWS

Kasus dugaan penyelewengan dana sharing perhutani yang dikucurkan ke LMDH/KTH ( Lembaga Masyarakat Desa Hutan/Kelompok Tani Hutan ) Mitra Hutan Margo Ayu Desa Pakuniran semakin menguat.Tersebut atas dasar laporan dari pengurus LMDH Margo Ayu Desa Pakuniran Kecamatan Pakuniran Kabupaten Probolinngo yang menginformasikan, bahwa pengucuran dana sharing dan hasil penjualan kayu yang dikelola oleh LMDH Margo Ayu perhutani yang jumlahnya juta rupiah diduga tidak transparansi dan ada indikasi penyelewengan.

Salah satu pengurus LMDH Margo Ayu yang dikeluarkan tanpa adanya pemberitahuan kepadanya,Sagimin dan mengatakan, ” Sebagai bukti awal dimana hampir seluruh pengurus LMDH Margo Ayu tidak tahu atas pencairan dana itu, apalagi penggunaannya. Bahkan pengakuan bendahara LMDH Margo Ayu Hariyanto mengaku, sama sekali tidak pernah pegang uang sharing dari perhutani. Tidak hanya itu hasil penjualan kayu yang dikelola oleh pengurus LMDH Margo Ayu tidak ada laporannya sama sekali , kata bendahara yang diangkat mulai tahun 2019 itu mengatakan.

Baca Juga .....  Wagub Jatim Terima Bantuan Tim BKR Polda Jatim

” Termasuk dana hasil hutan non tanaman pokok seperti penjualan kayu Kapuh,dan lain sebagainya tidak ada yang pernah masuk di rekening bendahara, apalagi dana sharing yang jutaan rupiah. Yang kecil saja gak pernah apalagi yang besar ? ” kata bendahara LMDH yang akrab dipanggil Dodon itu.

Salah satu warga dusun Margo Ayu petani hutan mengatakan, ” Ketertutupan pengelolaan dana di LMDH inilah membuat warga tepian hutan ikut merasakan jengkel. Sebab namanya masyarakat tepian hutan hanya mendengar ada dana sharing tapi tidak pernah diketahui wujudnya. “Mbok Yao wong katanya ada dana sharing, eee..ya .kasihlah LMDH ini kepada warga tidak mampu apa berupa sembako apa gimana gitu. Jangan hanya namanya masyarakat dimanfaatkan untuk cari dana, sementara masyarakat tidak pernah tahu dana itu kayak apa” kata salah satu warga yang tidak mau disebut namanya .

Baca Juga .....  Selama Vandemi Corona 633 Kasus Perceraian di Probolinggo

Media Indoglobe.news menjelaskan, ” Karena itulah kemudian dilampiaskan dengan mengkonfirmasi rumah bendahara LMDH Hariyanto (dodon)untuk mempertanyakan dana sharing. Hal ini tentu saja membuat Dodon kelimpungan, sebab Dodon sendiri tidak tahu dana yang dipertanyakan warga, dan otomatis tidak bisa menjawabnya. ” Sudah didapuk sebagai bendahara kok tidak tahu. Ini kan aneh” celetuk warga kepada Dodon.

“Jangankan masalah dana diundang rapat saja tidak pernah kok” kata Dodon. Atas kejadian ini Ketua LMDH SMN terkesan tertutup dan tidak memberikan komentar. Tetapi kecenderungannya dibawah kepemimpinan SMN ini cara pengelolaan LMDH banyak menjadi bahan pergunjingan masyarakat, sebab tidak bisa dielakkan lagi, banyak masyarakat menyatakan SMN cenderung memakai cara otoriter dalam memimpin LMDH. Meskipun SMN ini sudah menjabat berkali kali yaitu sejak berdirinya LMDH Margo Ayu.

Baca Juga .....  Dandim 0819 Pasuruan Menghadiri, Hari Peduli Sampah Nasional dan Gerakan Menanam Pohon Serentak.

Disinilah peluang indikasi korupsi itu ada sebab pengawasan yang lemah, bahkan pengurus yang tidak sejalan atau terlalu kritis dengan mudahnya tidak dipakai. Contohnya bendahara Dodon ini, meskipun bendahara itu pemegang kendali keuangan, tetapi faktanya bendahara sampai tidak tahu sirkulasi keuangan didalam intern organisasinya. .

Padahal isu kucuran dana sharing sudah beredar luas di masyarakat khususnya Dusun Margo Ayu dan otomatis yang dicurigai bendahara. Kemudian, setelah dilakukan pengecekan dan penelusuran di lapangan laporan warga tersebut ternyata memang benar adanya .

Dana diterima ketua LMDH tanpa sepengetahuan pengurus yang lain, itu diakui dalam forum itu. Yang besarnya berkisar Rp. 22 jutaan dana Sharing dan Penjualan kayu Kapuh(randu) ssbesar Rp.12 jutaan yang tidak ada laporannya sama sekali dari ketua LMDH Margo Ayu.@.red.team…ddn.

Komentar

News Feed