oleh

Betawi Punya Cerita

-Artikel-126 views

Betawi itu memang unik..

banner 970x90

Disaat Pilkada Boven Digoel 2020 terpaksa di tunda, karena rumah dinas wakil bupati yang mencalonkan diri berasal dari suku Jawa, diamuk dan dibakar para Orang Asli Papua (OAP) yang protes, karena ada suku jawa yang berani mencalonkan diri sebagai calon bupati. Dan KPU menolak calon bupati dari OAP karena dianggap terlibat korupsi.

Betawi malah tenang saja saat Bang Ali yang bersuku sunda memimpin Jakarta.

Tak ada rumah yang dibakar dan tak ada demo menentang Bang Ali. Bahkan saat banyak tanah Betawi di gusur, para penghuninya juga tak demo dan tetap diam tak bersuara, karena yang digusur Bang Ali dan dijadikannya rumah susun, memang banyak tanah kuburan. Bayangkan kalau penghuninya bisa protes dan demo? Apa gak rame Jakarta.

Bang Ali tetap dihormati dengan layak, sebagai salah satu tokoh yang mengembangkan budaya Betawi. Nama Bang Ali tak pernah hilang dari ingatan masyarakat Betawi.

Baca Juga  Apa kata Narasumber :Teknis Pembangunan Baik terencana

Betawi itu memang berbeda..

Disaat ada beberapa daerah pasca reformasi, disibukkan dengan isue gubernur atau bupatinya, wajib berasal dari putra daerah.

Betawi memecahkan rekor sejarah bangsa ini, bahwa ditengah masyarakat yang mayoritas Islam, betawi faktanya pernah dipimpin 2 gubernur Kristen dan juga keturunan Tionghoa, yaitu Henk Ngantung dan Ahok.

Jadi jangan pula kita berani-berani khotbah mengajarkan masalah pruralitas dan toleransi dengan masyarakat Betawi.

Istilahnya kita baru sebatas teori, mereka udah duluan bakar petasan ala budaya tionghoa saat nikahan dan mereka memasukkan beberapa bahasa serapan arab di bahasa betawi jadi bahasa sehari-hari, supaya “Ane” dan “ente”bisa nongkrong ngopi bareng malem hari, sambil ngobrol tentang besok hari, kira-kira anak kita pada mau makan apa.

Masalah nasionalisme orang betawi, jangan pula pernah diragukan..

Tanpa sumbangan MH Thamrin sebesar 2000 Gulden untuk pendirian lapangan sepakbola di Petojo,yang bisa digunakan para klub sepakbola Bumi Putera bertanding, mungkin sampai saat ini kita tak bisa bersedih bersama saat Timnas kalah dengan Thailand, atau rakyat mungkin tak bisa sejenak bergembira melupakan hutangnya di pinjol saat Nadeo berhasil menggagalkan pinalti Singapura.

Baca Juga  Salam Hormat Dua Jendral

Kalau mau dikecilkan skala jasa MH Thamrin pada sepakbola, paling tidak kita saat ini mungkin tak pernah bisa melihat serunya Persija bertanding lawan Persib, yang selama ini selalu aman dan damai untuk ditonton dengan keluarga, kalau kita nontonnya di layar televisi.

Tanpa jasa Ismail Marzuki, kita juga mungkin tak pernah bisa melihat para pemimpin bangsa duduk bersama tanpa kepentingan politik sedikitpun, saat kita menonton video viral Amien Rais, Gus Dur dan mega, menyanyikan bersama lagu Indonesia Pusaka.

Atau mungkin saja tanpa film-film Babe Benyamin, anak 80’an dan 90’an, akan semakin sulit mencari hiburan. Harmoko mungkin akan pusing sendiri, menghibur warga dengan hayalan, berita cabe kriting yang selalu baik-baik saja dan inflasi yang katanya selalu terjaga.

Hal yang pasti, tanpa keikhlasan warga betawi yang rela tergusur dari kampung halamannya. Mungkin tak akan pernah ada fhoto-fhoto warga daerah di monas, yang dengan bangga menghias rumah dan ruang tamunya, pertanda mereka sudah pernah ke Jakarta. Bayangkan jasa warga Betawi untuk meningkatkan Nasionalisme bagi daerah lainnya?

Baca Juga  Habib Kribo

Tak ada maksud beromantika kalau ane membicarakan tentang jasa orang-orang Betawi untuk bangsa, karena orang yang mengedepankan romantika dalam berdialektika, biasanya orang-orang yang pada saat ini merasa gagal atas kehidupannya. Sama seperti tetangga ane di Kebon Kacang, waktu ane numpang ngopi dikontrakannya, yang kini hanya bisa bercerita tentang tanah dan deretan ruko orang tuanya di Tenabang yang terpaksa di jual habis, untuk kebiasaannya main judi.

Ane hanya mencoba membangun mimpi bersama. Disaat tokoh-tokoh cerdas Betawi banyak yang tutup usia, sementara angka kelahiran seniman dan pemimpin Betawi semakin langka, tanpa pula berupaya menentang program KB pemerintah.

Ditengah kepemimpinan primordialisme dipertontonkan secara nyata di negeri ini. Isue sumur resapan Anies membuat para buzzer bisa mencari sesuap nasi dan sebongkah berlian dan Ibukota kini sedang mencoba merantau mengadu nasib ke Kalimantan, tanpa lebih dulu pamit dengan orang tuanya.

Betawi kedepan ini mau dibawa kemana?

banner 970x90

Komentar

News Feed